Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Ramadan di Rantau

Menjelang ramadan, siapakah yang dapat bercerita tentang cara menggoreng cucuru?  Atau cara membuat kue baruasa? Atau cara menganyam, mengikat, dan merebus lapa-lapa? Taka ada kenangan yang dekat dengan cucuru, baruasa, dan lapa-lapa. Sebab terakhir saya saksi pada semua, kira-kira pada Tahun 2010.  Sebelum ayah melepas nafas, tersingkap kapan, terdekap tanah, tinggal nisan dan gelar kenangan. Tahun selanjutnya, mama dan 3 orang sekanungku mengadu meninggalkan kampung yang malang mengadu nasib di bawah rabun tandang dan dedaunan kelapa sawit. Saya berkelana serupa pengembara kehilangan muara dan lupa alamat. Beberapa bujuk rayu nuansa kemewahan dari para budiman saya tolak. Sebab saya terlalu kaku hidup dengan di rumah mewah dan fasilitas mewah. Saya memilih sebagai sebatang kara, yang memungut suap-suap nasi di sepanjang bibir jalan Kabe-kambero, Kolowu, Rumah Tiga (Pure), terkahir saya memantapkan di bekas kantin SMK Al-Safitri kira-kira hampir dua tahun terkatung-katung. La...

Setiap Menusia Membuat Jebakan

Banyak orang yang menjebak dirinya, sebagai konsekuensi mereka akan mendapatkan balasan yang lebih indah dan rapi dari perbuatan jahat yang mereka benarkan. Lalu di dunia mereka akan takjub atau terkejut dengan balasan itu. Sementara di akhirat mungkin mereka menderita atau tersiksa. Misalnya dalam keyakinan Islam, orang-orang yang telah mati akan melewati fase penyaringan * Shirath  di neraka yang diterangkan dalam * Q.S. Maryam 18:71-72) * . Atau dalam Kristen, orang-orang yang telah mati akan melewati fase di Api Pencucian diterangkan dalam Matius 5:48. 

Perjalanan Nestapa

Selamat menuju ke kehidupan baru. Betul kata pendahulu, kita harus punya impian yang tinggi. Maka saya ingin menyatukan timur dan barat. Tapi bukan itu esensi dari impian saya, adalah pertemuan antara kita yang saling mencari dari timur dan barat mana pun setelah kita mengukuhkan niat. Dan kita saling menerima, bukan karena dasar keinginan, sebab tak ada manusia yang betul-betul mengukur dan dan memperkirakan keinginannya, melainkan kita adalah takdir yang saling bertemu, yang saling membutuhkan sebagai sebagai serpihan yang kegelisahan menyatu. Pertemuan itu adalah pertemuan antara timur dan barat. Matahari adalah surat kerinduan yang diantarkan waktu kepadamu. Saban hari kau akan terus kukirimi surat-surat kerinduan, untuk kau simpan di laci paling aman, dalam hati terdalammu. Katakan saya timur yang memancarkan cahaya sebagai penerang jalan-jalan perjuangan dan keikhlasan. Lalu kau adalah barat yang menyimpan keindahan senja dan menemukan keihklasan dan perjuangan itu.