Langsung ke konten utama

Postingan

Siklus 3, Keserakahan Manusia

 Kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang hanya akan memikirkan kesenangannya sendiri. Manusia manusia yang memilih bodoh amat pada sebagian aspek kehidupannya, dan akhirnya akan kecewa pada orang lain lantaran permintaannya ditolak.  Ketika setiap orang sudah sama-sama bekerja, seharusnya sama-sama pula menerima gaji. Maka seharusnya kita harus selalu menyisipkan untuk keperluan pribadi. Kedantipun telah dibagi dengan tanggung jawabnya.  Kadang saya berpikir, orang orang yang hanya asyik menghabiskan hasil jeripayanya untuk berfoya-foya, sebenarnya apa tujuannya? Setelah menyadari mereka telah kehabisan banyak uang, masih sempat bertanya "kapan kita kaya? ". Tidak ada yang tau jawabannya.  Jangankan berfoya-foya, seorang yang menabung, pun belum tentu akan menjadi orang kaya. Sebab dalam kehidupan, ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Belum lagi kalau-kalau untuk memenuhi keinginan. Butuh proses yang panjang berjuang dan berpikir untuk menjadi kaya....
Postingan terbaru

Siklus 2: Rasanya Menyayangi

 Seperti apa rasanya menyayangi?  Ada banyak hal yang tidak dapat diungkapkan dengan sekadar kata. Ketika saya menyayangi seseorang. Saya sering ungkapkan perasaan itu. Ketika saya bersiteru dengannya entah mengapa air mata selalu jatuh tanpa izin. Ketika saya menunggu kabar dan dia sibuk, tidak terungkap berapa berat geliasahku.  Bukan karena saya tidak percaya padanya, tapi saya hanya ingin selalu memastikan apakah dia baik-baik saja. Karena saya ingin betul-betul menjaganya meskipun sekadar menjaga melalui jarak. Saya ingin selalu ingatkan, sebab kalau sudah terlalu sibuk dia lupa dengan diri sendiri.  Sekarang dia sering sakit, mungkin karena saya terlambat datang dan memberi perhatian. Sudah sejak lama dia lupa jaga kesehatan dan harus diingatkan. Saya tidak akan  sungkan untuk memarahinya. Selagi demi kesehatan dan kebaikannya. Anggap saja itu bagian kecil dari rasa sayangku.  Saya akan cemburu jika ada lelaki yang dekat denganya. Bukan karena saya ta...

Siklus 1; Perihal Perasaan

Serumit inikah hidup seperti ini? Saya bingung harus memulai dari mana?  Lima bulan terakhir ini, bahkan begitu rumit jika saya memikirkan diri saya sendiri. Kehidupan macam apa ini? Kadang rasanya sangat kegirangan, tapi kadang juga rasanya sesak sesesak-sesaknya. Ya mungkin karena persoalan perasaan yang memang rumit dimengerti. Apalagi ada hati lain juga yang harus dipikirkan.  Tapi yang terjadi adalah, sudah terlalu jauh saya masuk di kedalaman perasaan ini. Bahkan mungkin telah terjebak. Ada banyak hal yang entah bagaimana saya akan ceritakan. Soal asmara. Tepatnya saya terjebak dalam keadaan yang rumit. Mungkin karena masih terlalu labil di usia seperti ini soal cinta.  Saya selalu saja kehilangan kedewasaan dalam berpikir, emosian, merasakan amarah yang harus selalu dilupakan. Tapi saya tidak pernah bisa bertahan dengan segala kegusaran itu, tidak pernah pula dapat mengabaikannys. Ada semacam perasaan ataukah naluri yang terus membusik untuk sabar dan selalu memaaf...

Afdeling III A (Catatan Harian)

 Di sini, di Afdeling III A, di lembah Langgikima. Saya mencintai lembahnya, udaranya, kabutnya, rimbunya, rindangnya, ranumnya, asrinya, dan sebagainya. Hanya sayang yang tidak termaafkan adalah sebuah pengkhianatan. Pengkhianatan mungkin oknum atau perusahaan sepenuhnya pada masyarakat. Masyarakat yang memimpikan berbagai kemungkinan yang memberikan keabsahan.  Tetapi ternyata, harapan itu terkhianati, rakyat tak mendapat hak sebagaimana yang dijanjikan ketika sebelum sawit numpang di atas tanah mereka.  Saya paham bagaimana rasanya terusik di kandang sendiri. Tapi apa boleh buat, nasib di rampas orang. Sementara tanah, air, udara dan seisinya dikuasai oleh negara. Negara dikuasai oleh diktator, koruptor, iblis dan manusia-manusia yang kadang lihai menjilat. Langgikima, 2 Januari 2021

idealisme II

Setiap orang dapat berdiri dengan kekuatan pendiriannya yang kokoh, itu hak setiap manusia: tua, muda, dara, jejaka, semua memiliki hak untuk sekeras-kerasnya menentukan hidupnya. Idealisme memang penting dalam kehidupan seseorang supaya tidak mudah goyah dan tidak muda pula terdikte oleh siapa pun. Tapi yang perlu diingat dan terus diingat, bahkan menjadi perhatian penting dan utama sebagai manusia sosial. Manusia-manusia yang saling mengasihi dan menghargai satu sama lain.  Sebagai makhluk sosial kita memiliki satu beban yang tidak boleh dilupakan. Hanya saja selama ini telah diabaikan. Terkadang tidak sedikit orang yang masih ingin melakukannya. Sebagaimana telah ditetapkan bahwa kita: ada yang tua, ada yang muda, ada yang kanak-kanak, ada yang balita. Ada yang kakak ada yang adik.  Maka sebagaimana makhluk beradab, kita harus tetap menghormati yang tua, dan  menghargai yang muda, yang kanak-kanak, yang balita. Menghormati yang kakak, menghargai yang adik. Tanpa menghi...

Menjadi Manusia yang Manusia

Iksan Skuter dalam lirik lagunya "makin susah saja menjadi manusia yang manusia".  Manusia yang manusia? Perlu kita renungkan, Iksan Skuter begitu tersirat mengatakan bahwa tidak semua manusia adalah manusia. Lalu, jika bukan manusia, lalu apa? Selain manusia, ada jin, malaikat, hewan dan benda.  Hemat saya, manusia dapat dikategorikan sebagai; entah hewan, jin, bahkan benda. Tergantung dari dinamika pembahasan, misalkan seperti kata Aristoteles "manusia adalah hewan yang berpikir" sampai di sini, mungkin tidak sedikit orang yang akan mengelak. Tapi kenyataannya demikian, kadang secara gamblang, manusia persis hewan.  Membedakan manusia dengan hewan terletak pada proses berpikir (atau menggunakan akal). Dengan akal, manusia akan dibatasi oleh norma-norma, misalnya norma spritual dan norma sosial. Sebab makhluk ciptaan Allah, manusia terikat oleh kaidah-kaidah spritual. Dari ranah sosial, manusia terikat oleh berbagai sikap kaku, ada tuntutan agar seorang berakal tid...

Idealis dan Akhlak

 Tentang kemantapan hati, seorang mahasiswa bisa saja selalu dengan kekuatan pendirinya. Berani mengatakan tidak pada yang salah dan berani mengatakan kebenaran walau akan dibungkam. Itu pasti.  Misalnya mahasiswa akan adu argumen dengan dosen jika mahasiswa menguasai pelajaran dan menganut paham "tidak ada kebenaran mutlak". Bahwa semua orang memiliki kebenaran masing-masing. Semua orang berhak mendapatkan dukungan atas kelogisan argumen. Apa hal demikian benar? Bagi saya, ada benarnya dan ada salahnya. Sisi benarnya adalah mahasiswa harus berani mengungkapkan argumen selama berada di jalur yang benar, misalnya menguasai pembahasan. Tapi ingat, sepintar-pintarnya mahasiswa harus juga menjunjung tinggi sopan-santun, sebagai seorang pelajar, yang tabiat sebagai murid yang menerima pelajaran.  Letak kesalahannya, adalah ketika mahasiswa mengungkapkan argumen tanpa menjunjung tinggi rasa hormat kepada yang lebih tua, apalagi pada seorang dosen yang sudah sejak sebagai pemand...