Menjelang ramadan, siapakah yang dapat bercerita tentang cara menggoreng cucuru?
Atau cara membuat kue baruasa?
Atau cara menganyam, mengikat, dan merebus lapa-lapa?
Taka ada kenangan yang dekat dengan cucuru, baruasa, dan lapa-lapa. Sebab terakhir saya saksi pada semua, kira-kira pada Tahun 2010.
Sebelum ayah melepas nafas, tersingkap kapan, terdekap tanah, tinggal nisan dan gelar kenangan.
Tahun selanjutnya, mama dan 3 orang sekanungku mengadu meninggalkan kampung yang malang mengadu nasib di bawah rabun tandang dan dedaunan kelapa sawit. Saya berkelana serupa pengembara kehilangan muara dan lupa alamat. Beberapa bujuk rayu nuansa kemewahan dari para budiman saya tolak. Sebab saya terlalu kaku hidup dengan di rumah mewah dan fasilitas mewah. Saya memilih sebagai sebatang kara, yang memungut suap-suap nasi di sepanjang bibir jalan Kabe-kambero, Kolowu, Rumah Tiga (Pure), terkahir saya memantapkan di bekas kantin SMK Al-Safitri kira-kira hampir dua tahun terkatung-katung. Lalu kini di Kendari saya rindu pada segalanya. Sebab sendiri terlalu kecil untuk menikmati dunia yang fanah dan lebaran kali ini mata menawarkan sungai air mata dari kerinduan pada lekuk wajah dan rambut kalut ayah, tawa dan tangis ibu yang membuat saya tengah berada di tubir jenjang, mungkin di lapik sana, lidah-lidah api neraka tak sabar mencecapku. Dan akhirnya saya menitip salam pada sesiapa yang membuat cucuru, baruasa, dan lapa-lapa. Jika berkenan kirimi saya foto atau seutas video berdurasi singkat setidaknya dapat saya abadikan di semua akun medsos yang masih saya aktifkan.
Saya titip nomor ponsel dan menanti di WhatsApp,
082292316451.
Komentar
Posting Komentar