Pengkhianatan sebagai cara kita mengikuti ambisi kita sebagai manusia, terlapas memikirkan konsistensi. Tentu akan ada kekecewaan yang tumbuh karena pengkhianatan itu. Kekecewaan yang akan mudah dilupakan ataupun tidak. Terkadang pengkhianatan memang menjanjikan sedikit dari definisi kepuasan. Tapi sebaiknya kita untuk belajar untuk hidup tertib. Mari kita untuk mencoba saling memahami dengan analogi sederhana yang klise dalam hidup kita.
Kita sering tak acuh ketika mengecewakan orang lain, tetapi toh, ketika dikecewakan, amarah kita menggelora, seakan kita terbakar api, dan menabrak segala nama binatang. Kita sering berbicara tentang keadilan, tapi kita saja sukar untuk belajar adil pada diri sendiri. Sebelum menerapkan keadilan pada orang lain, kemudian keluarga, masyarakat, maupun negara.
Dalam kesunyian, memang terkadang kita akan merasa jenuh. Namun ada banyak guru yang kita akan temui dalam kesunyian. Misalnya termenung, sebagai guru yang akan menjajarkan kita memikirkan kesalahan-kesalahan dan rencana renovasi diri yang semakin lapuk. Lalu keheningan, guru yang dapat mengajarkan kita pada sebuah terminal tempat kita akan bertemu dengan inspirasi. Dalam kesunyian pula kita belajar memikirkan segala hal yang dapat merubah diri kita. Bertemu dengan draf-draf perencanaan yang setidaknya menjadi salah satu dari sekian cita-cita yang gemilang. Kesunyian itu suatu saat akan pergi dan bisa kembali tanpa kita menawarkan kekecewaan pada orang lain, tanpa kita renggut hak kebahagiaan orang lain. Tanpa kita rusak keadialan yang sering kita suarakan.
Rahmat Adianto
Kendari, 22 Juni 2020
Komentar
Posting Komentar