Serumit inikah hidup seperti ini? Saya bingung harus memulai dari mana? Lima bulan terakhir ini, bahkan begitu rumit jika saya memikirkan diri saya sendiri. Kehidupan macam apa ini? Kadang rasanya sangat kegirangan, tapi kadang juga rasanya sesak sesesak-sesaknya. Ya mungkin karena persoalan perasaan yang memang rumit dimengerti. Apalagi ada hati lain juga yang harus dipikirkan.
Tapi yang terjadi adalah, sudah terlalu jauh saya masuk di kedalaman perasaan ini. Bahkan mungkin telah terjebak. Ada banyak hal yang entah bagaimana saya akan ceritakan. Soal asmara. Tepatnya saya terjebak dalam keadaan yang rumit. Mungkin karena masih terlalu labil di usia seperti ini soal cinta.
Saya selalu saja kehilangan kedewasaan dalam berpikir, emosian, merasakan amarah yang harus selalu dilupakan. Tapi saya tidak pernah bisa bertahan dengan segala kegusaran itu, tidak pernah pula dapat mengabaikannys. Ada semacam perasaan ataukah naluri yang terus membusik untuk sabar dan selalu memaafkan dalam sekecawa apapun. Kadang rasanya ini, saya ingin menjauh dari segala kesesakan yang ada. jangan menjauh, untuk istirahat sajaterasa sangat sulit.
Saya harus terus membujuk diri untuk selalu berdamai dengan keadaan. Mungkin saya terlalu menyayanginya? Tidak ada yang tau, inikah rasa sayang atau apa? Karena rasa sayang tidak pernah absah jika sebatas kata. Tapi yang pasti, saya telah katakan padanya, saya menunggu dia siap untuk saya bertandang ke rumahnya, bertemu kedua orang tuanya untuk sekadar memperkenalkan diri samata. Kalaupun mendapat restu bersyarat, InsyaAllah saya akan berusaha sekuat dan semampu dalam koridor yang telah ditetapkan Allah.
Berkali sudah saya mencoba ingin mengabaikan segala rasa sesak, melupakan peduli, mendiamkan rindu, dan semacamnya. Tapi tidak penah bisa, seperti ada semacam magnet yang terus menarik untuk selalu menunggu, meskipun menunggu terasa sulit dan tak pasti. Dan akhirnya kecewa berulang-ulang dan memaafkan pun berulang-ulang, sebab tidak ada pilihan lain.
Banyak benarnya yang orang-orang katakan, kalau lelaki ketika bertemu perempuan, maka dia akan seperti bayi. Ya seperti itulah keadaanku sekarang. Setiap ada masalah, akan selalu mengalir air mata. Mungkin itu bagian dari kelembutan hati yang memangil-manggil kesadaran dan penyesalan. Air mata yang selalu merubahku menjadi sabar memaafkan. Kendatipun kadang kecewa berulang-ulang, masih dapat saya pendam. Hanya pada titik tertentu saya harus melupakan banyak kata untuk sekadar didengarkan dan untuk mendapat perhatian.
Di sisi lain, saya selalu diterpa berbagai model masalah, katakan saja ini sebagai perang pemikiran. saat saya merasa sendiri, banyak hal yang akan datang mengusik ketenangan saya. mulai dari beban tanggung jawab. tanggung jawab ina yang membuat saya harus selalu siap berasa dalam keadaan yang rumit pula. saya harus terus bekerja. Karena saya anak seorang petani yang pergi tanpa sempat meninggalkan kekayaan. Tidak bisa sebebas orang lain yang kenamapun dengan finansial orang tua yang kadang berlebihan.
Setelah tanggung jawab pekerjaan, masih ada lagi tanggung jawab untuk berusaha terus menabung untuk menikahi putri orang.
Selanjutnya masalah yang datang, soal restu orang-tua tua. Entah apa yang membuat saya nekat mencitai seorang gadis berketurunan darah biru. Dalam benak saya, hanya ada harapan dan banyak pertanya; mungkinkah akan direstu, ataupun direstui dengan berbagai persyaratan. Lagi pula saya bukan siapa-siapa, saya hanya anak petani yang berusaha memenuhi kebutuhan dari hasil keringat sendiri. kadang saya merasa minder. dan mungkin harus selalu minder.
Kemudian kadang datang pemikiran gila. lantaran merasa capek dengan segala masalah kehidupan. saya ingin seperti Soe Hok Gie atau Ahmad Wahib. Dia pemuda pada masa orde Lama dan orde Baru yang sama-sama mati muda. Saya pun ingin mati, dan melihat berapa banyak yang akan menangis dan berapa banyak pula yang akan tertawa?
Ahhhh, menyayangi itu rumit.
Komentar
Posting Komentar