Langsung ke konten utama

Siklus 2: Rasanya Menyayangi

 Seperti apa rasanya menyayangi? 

Ada banyak hal yang tidak dapat diungkapkan dengan sekadar kata. Ketika saya menyayangi seseorang. Saya sering ungkapkan perasaan itu. Ketika saya bersiteru dengannya entah mengapa air mata selalu jatuh tanpa izin. Ketika saya menunggu kabar dan dia sibuk, tidak terungkap berapa berat geliasahku. 

Bukan karena saya tidak percaya padanya, tapi saya hanya ingin selalu memastikan apakah dia baik-baik saja. Karena saya ingin betul-betul menjaganya meskipun sekadar menjaga melalui jarak. Saya ingin selalu ingatkan, sebab kalau sudah terlalu sibuk dia lupa dengan diri sendiri. 

Sekarang dia sering sakit, mungkin karena saya terlambat datang dan memberi perhatian. Sudah sejak lama dia lupa jaga kesehatan dan harus diingatkan. Saya tidak akan  sungkan untuk memarahinya. Selagi demi kesehatan dan kebaikannya. Anggap saja itu bagian kecil dari rasa sayangku. 

Saya akan cemburu jika ada lelaki yang dekat denganya. Bukan karena saya takut bersaing. Tapi  saya tidak mau dia tenggelam dalam pelukan lelaki yang salah. Juga karena saya ingin menjaganya. 

Kadang saya selalu marah padanya, mungkin karena kesalahan sepele, kadang saya merasa lelah, tapi saya belum main menyerah, saya ingin mengabaikan semua keresahan tapi ada semacam panggilan untuk menyiapkan diri untuk tempat membaringkan lelahnya. Dia tidak punya tempat untuk menceritakan lelahnya, kendati pun punya sahabat yang sudah lama mengenalnya. 

Maka rasanya menyayangi adalah seperti ini. Bersiap untuk segala risiko dengan belajar mengekarkan dada untuknya melupakan amarah, lelah, sedih, dan segalanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

05 April 2020

Ada apa?

25 Maret 2020

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1286586841730127&set=a.112884472433709&type=3&eid=ARBScCIZzG3r5t_LA82xzdvZlH_3UuNLzcKpMk18wBZbQAePHEQNhFzLbYFKTuBUIriJH-bYpjYvGt_1 Kata Bang Kahar Mappasomba Daeng Tulolo saya harus membaca apa pun. Baru saja, saya lihat burung gereja rumah tetangga depan kamar saya. Tiba-tiba saya berpikir, tentang alasan (burung dalam gambar) diakrabi dengan nama burung gereja dan seharusnya "Passer montanus" nama latinnya. Ternyata burung ini berasal dari Asia. Di Indonesia burung ini, sering ditemukan dan membuat sarang di gereja. Karena burung ini selalu mencari tempat yang aman, maka gereja dengan arsitektur yang kadang tinggi dan luas, cukup dianggapnya sebagai tempat yang aman.