Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Fenomena Covid-19

CATATAN FENOMENA COVID-19 Covid-19 katanya "salah satu varian virus yang sangat mematikan." Dibuktikan dengan beredarnya berbagai macam video kematian mendadak, berita kewalahannya tenaga medis, dan berbagai berita horor lainya. Benarkah semua ini? Mari kita bahasa. Kira-kira akhir 2019 telah beredar informasi bahwa ada virus varian baru yang sangat mematikan yang bermula dari salah satu pasar di Wuhan. Muncul berbagai analisis bahwa virus berasal dari hewan-hewan yang dijual, ada yang mengatakan karena kuliner hewan hidup, dari lipan yang dijadikan sate, dan ada pula yang mengatakan dari kelelawar. Karena orang Indonesia muda percaya berbagai isu maka, segala informasi tersebar begitu cepat entah valid atau tidak. Karena maraknya penyebaran informasi yang belum tervalidasi, seolah-olah para media berlomba mencari informasi tentang covid-19. Entah benar atau tidak, asal view meroket maka pekerjaan jurnalis. Sementara masyarakat tengah panik bukan kelapangan. Saya m...

Yang Hilang Yang Terbaikan

 Sekolah setinggi-tingginya, berkakvitas sebanyak-banyaknya dan sesibuk-sibuknya. Tapi kalau akhlak jebol, manusia tidak beda dengan hewan-hewan yang hanya ingin memenuhi naluri pemangsanya. Pesan untuk "katanya" orang pintar. Entah mengapa saya kembali membayangkan kehidupan yang serba beradab. Kehidupan orang-orang cerdas-bermoral. Kehidupan yang bahkan hari ini nyaris hilang dari peradaban. Beberapa contoh, konon orang-orang Buton setinggi apapun jabatannya tetap akan tunduk pada guru. Atau sepintar apapun yang adik-adik akan tetap hormat pada yang lebih tua. Era mengubah berbagai aspek peradaban, mungkin ada segelintir orang yang telah berorganisasi atau merasa pintar, lalu dia tidak mau hormat pada seorang yang lebih tua (senior), mungkin lantaran dia memandang senior itu terlihat idiot atau terlihat bodoh di matanya.

Siklus Kepribadian

Belakangan saya merasa, begitu banyak yang berubah dalam kehidupan kecil ini, di awali dari berbagai kekecewaan yang membuat saya marah dan tidak ingin bicara, kecuali pada beberapa orang yang memang saya akrabi (kadang pula enggan).  Saya berpikir percuma jadi manusia yang dibutuhkan, ketika saya sedang berada dalam terpurukkan seakan saya merasa tidak banyak orang baik di dunia ini. Beberapa kali, saya ingin mencoba senyap dari media sosial, tapi saya takut kehilangan informasi penting. Beberapa kali saya coba ingin mengabaikan sesiapa saja yang mengirim pesan WhatsApp, Tapi saya selalu tidak tega membiarkan orang-orang sedikit menunggu. Kira-kira inilah yang menjadi sedikit berat untuk saya beralih kepribadian. Tapi setidaknya sedikit mulai berubah ada perubahan. Mungkin karena memikirkan kekecewaan saya pada orang-orang lantas saya merasa tidak perlu berbicara pada sesiapa saja, kecuali mereka teman-teman yang saya anggap manusia. Mungkin dengan satu potongan kalimat yang ...

Perihal Pimpin-memimpin

Tuhan menciptakan orang tentunya untuk memimpin. Dalam dinamika sosial tentunya pimpin-memimpin merupakan hal yang lazim. Tetapi, ada banyak bias yang terjadi dalam mimpin-memimpin, jika seorang pemimpin melakukan segala sesuatu ada dasar kehendaknya sendiri. Padahal saat memimpin, ia tidak sendiri, tetapi memiliki tanggun jawab terhadap beberapa anggota. Karena anggota merasa dipimpin tentunya mereka juga memiliki hak untuk melakukan sesuatu tanpa keluar dari koridor yang telah ditetapkan. Koridor yang saya maksud adalah peraturan yang ditentukan oleh pemimpin.  Saya memiliki pengalaman satu pengalaman yang menarik diceritakan. Peristiwa yang belum lama terjadi, bahkan baru semalam berlalu sejak tanggal saya menulis cerita ini. Ini akan berkaitan dengan pimpinan memimpin, tetapi dalam skala yang kecil. Misalnya dalam grup WhatsApp. Dalam grup WhatsApp pun tentunya ada pemimpin, maka adminlah yang menjadi pemimpin dalam grup WhatsApp tersebut. Pasca kejadian, saya berpikir "loh, u...

Lupa Cara Tidur

Sudah malam, bukan itu maksudku, saya hanya ingin menggunakan kata "sudah" sebagai penanda waktu yang telah berlalu. Yang saya maksud adalah subuh hampir usai pula. Menjelang pagi, tapi suasana belum terang, masih menggelap. Sama seperti waktu-waktu yang telah berlalu, dengan suasana yang sama, mata yang terjaga. Entah, saya telah lupa atau benar-benar tidak tau cara tidur? Saya coba menggiring  tubuh dan merebah ke tempat tidur. Tapi ini bukan tempat tidur lagi. Saya telah menghabiskan waktu dengan duduk, baring, berdiri, duduk, berdiri, baring, dan seterusnya. Mungkin saya telah kehilangan malam, dan juga mungkin akan kehilangan "siang". Sama seperti saya kehilangan keberanian untuk mencintaimu. Tak ada alasan yang dapat kau minta, tak ada jawaban untuk pertanyaan darimu. Tapi saya ingin katakan jaga hatimu, dari buaya-buaya lucu yang suka melucu. 😂

Pengkhianatan atau Kesunyian

Pengkhianatan sebagai cara kita mengikuti ambisi kita sebagai manusia, terlapas memikirkan konsistensi. Tentu akan ada kekecewaan yang tumbuh karena pengkhianatan itu. Kekecewaan yang akan mudah dilupakan ataupun tidak. Terkadang pengkhianatan memang menjanjikan sedikit dari definisi kepuasan. Tapi sebaiknya kita untuk belajar untuk hidup tertib. Mari kita untuk mencoba saling memahami dengan analogi sederhana yang klise dalam hidup kita. Kita sering tak acuh ketika mengecewakan orang lain, tetapi toh, ketika dikecewakan, amarah kita menggelora, seakan kita terbakar api, dan menabrak segala nama binatang. Kita sering berbicara tentang keadilan, tapi kita saja sukar untuk belajar adil pada diri sendiri. Sebelum menerapkan keadilan pada orang lain, kemudian keluarga, masyarakat, maupun negara. Dalam kesunyian, memang terkadang kita akan merasa jenuh. Namun ada banyak guru yang kita akan temui dalam kesunyian. Misalnya termenung, sebagai guru yang akan menjajarkan kita memikirkan kesalaha...

Ramadan di Rantau

Menjelang ramadan, siapakah yang dapat bercerita tentang cara menggoreng cucuru?  Atau cara membuat kue baruasa? Atau cara menganyam, mengikat, dan merebus lapa-lapa? Taka ada kenangan yang dekat dengan cucuru, baruasa, dan lapa-lapa. Sebab terakhir saya saksi pada semua, kira-kira pada Tahun 2010.  Sebelum ayah melepas nafas, tersingkap kapan, terdekap tanah, tinggal nisan dan gelar kenangan. Tahun selanjutnya, mama dan 3 orang sekanungku mengadu meninggalkan kampung yang malang mengadu nasib di bawah rabun tandang dan dedaunan kelapa sawit. Saya berkelana serupa pengembara kehilangan muara dan lupa alamat. Beberapa bujuk rayu nuansa kemewahan dari para budiman saya tolak. Sebab saya terlalu kaku hidup dengan di rumah mewah dan fasilitas mewah. Saya memilih sebagai sebatang kara, yang memungut suap-suap nasi di sepanjang bibir jalan Kabe-kambero, Kolowu, Rumah Tiga (Pure), terkahir saya memantapkan di bekas kantin SMK Al-Safitri kira-kira hampir dua tahun terkatung-katung. La...