Seonggok debu di rumah kumuh, telah lama bernyanyi lirih. Di Awangnya,
dedaunan asam bercengkerama dengan desir angin yang membelaikan
kerinduan pada rumah itu. Bila kelam tiba, sepi mengoyak, lalu
melepasnya begitu saja. Betapa sedihnya, sebab empunya tak pernah
benar-benar jujur mengakuinya, lantaran nasibnya yang tak beruntung,
hanya ke-Ada-an bersimpati, dan dua pohon asam yang setia mengabdi.
Blog ini akan berisi catatan harian saya (Rahmat Adianto), saya sudah mulai menulis di sebuah buku kecil yang saya beri judul sendiri 'Saya Menulis, Sayang". Berisi tentang manifestasi asmara, nestapa, nostalgia, kritik sosial, dan wawasan disiplin ilmu lain yang lahir dari hasil bacaan dan interpretasi yang saya lakukan.
Komentar
Posting Komentar