Langsung ke konten utama

20 April 2020

Seonggok debu di rumah kumuh, telah lama bernyanyi lirih. Di Awangnya, dedaunan asam bercengkerama dengan desir angin yang membelaikan kerinduan pada rumah itu. Bila kelam tiba, sepi mengoyak, lalu melepasnya begitu saja. Betapa sedihnya, sebab empunya tak pernah benar-benar jujur mengakuinya, lantaran nasibnya yang tak beruntung, hanya ke-Ada-an bersimpati, dan dua pohon asam yang setia mengabdi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

05 April 2020

Ada apa?

25 Maret 2020

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1286586841730127&set=a.112884472433709&type=3&eid=ARBScCIZzG3r5t_LA82xzdvZlH_3UuNLzcKpMk18wBZbQAePHEQNhFzLbYFKTuBUIriJH-bYpjYvGt_1 Kata Bang Kahar Mappasomba Daeng Tulolo saya harus membaca apa pun. Baru saja, saya lihat burung gereja rumah tetangga depan kamar saya. Tiba-tiba saya berpikir, tentang alasan (burung dalam gambar) diakrabi dengan nama burung gereja dan seharusnya "Passer montanus" nama latinnya. Ternyata burung ini berasal dari Asia. Di Indonesia burung ini, sering ditemukan dan membuat sarang di gereja. Karena burung ini selalu mencari tempat yang aman, maka gereja dengan arsitektur yang kadang tinggi dan luas, cukup dianggapnya sebagai tempat yang aman.