Oleh: Rahmat Adianto
Saya terkesimasaat menghabiskandurasi (2 jam 2 menit 57 detik)dari sebuah film,The Freedom Writers.
Banyak inspirasi dan nilai sosial yang disajikan dalam film ini.
Isnpirasi dan nilai yang setidaknya dapat diterapkan dalam kehidupan
kita sebagai makhluk majemuk dengan keadaan yang plural. Secara
Psikologi, kehadiran tokoh utama memberikan banyak perbahan terhadap
kejiwaan para siswa dengan mengajarkan arti keberangaman yang harusnya
bersatu. Selain itu, film ini dapat ditinjau mengunakan pemikiran
feminisme.
“Setidaknya saat kau mati membela diri, kau mati terhormat sebagai seorang pejuang.”
“Jadi jika kau mati, kau akan mendapat hormat? Begitu menurutmu? Apa
kau tahu apa yang terjadi saat kau mati? Kau akan membusuk di dalam
tanah. Orang-orang akan melanjutkan hidupnya, dan melupakanmu.”
Percakapan di atas, bagian perdebatan antara Jason Finn (Marcus) dan
Hilary Swank (Erin Gruwell). Kalimat yang meluap dari lisan Erin Gruwell
membuat siswa-siswa hening, berpikir, dan ada yang mengalirkan air
mata. Siswa-siswa yang menghadapi berbagai bias sosial, mengantarkan
mereka pada sebuah pemikiran singkat, seolah-olah hidup hanya berkisar
pada cara hidup dengan bertahan pada ideologi rasisme.
Sekitar tahun 1965,pergolakan antara Bangsa Boer(Belanda) dan Inggris
terjadi karena perebutan potensi alam Afrika Selatan. Selang tahun
1899-1902, Inggris memenangkan pergolakan itu,dan berkuasa di
Afrika Selatan yang ditandai dengan berdirinyaUnion of South Africa (ketatanegaraan Inggris).
Dari ketatanegaraan inilah, lahir politik apartheid (politik
perbedaan kulit putih dan kulit hitam) yang di lahirkan oleh Daniel
Francois Malan sebagai Perdana Menteri.Perlakuan rasisme yang dilegalkan
dalam politik apartheid ditentang oleh Nelson Mandela melalui Nation
African Congress dan menggandeng oposisi lain (kulit kuning) untuk
melawan dominasi kulit putih. Nelson Mandela berhasil menunjukkan
eksistensi kulit hitam melalui pencapaiannya sebagai presiden pertama
kulit hitam di Afrika Selatan.Sentimen rasisme belum sepenuhnya
terhapuskan dalam film The Freedom Writers. Masih ada klaim tentang
kulit hitam dan kulit putih. Klaim tersebut memberikan kekuatan pada
siswa-siswa itu untuk berkomitmen dengan keyakinan bahwa kaum kulit putih
dan kulit hitam tidak akan dapat berdamai. Kulit putih
terlalu kejam untuk dimaafkan oleh orang-orang kulit hitam. Bagi kaum kulit hitam, mereka yang berkulit putih adalah musuh yang selamanya akan dibenci. Demikianlah komitmen yang pengang teguh oleh kaum kulit hitam.
Tragedi holocaust adalah pembantaian
dari bangsa Jerman sebagai “ras unggul”, sementara “ras rendah” dilabelkan pada bangsa Yahudi. Holocaust menjadi sarana
bagi siswa-siswa itu untuk menyikapi persoalan rasisme (kulit putih dan
kulit hitam). Holocaust menjadi doktrin bagi mereka untuk hidup
berdamai.
Erin Gruwellatau yang disapa dengan panggilan Ms. G., hadir untuk
berbagai perubahan integritas sekolah sekaligus perubahan ideologi
siswa-siswanya.Setelah beberapa pertemuan di kelas bahasa Inggris, Erin
masih dengan kebingungannya mencari cara mengubah perilaku hidup
siswa-siswa yang telah menjadi bagian dari tenggung jawabnya itu. Dengan
kegigihan dan semangat, Erin perlahan menemukan solusi demi solusi
untuk mengubah karakter mereka. Erin mencoba untuk melakukan berbagai
tahap untuk menarik simpati mereka.Sebagai tahap pertama ia menerapkan
pendekatan emosional. Dari pedekatan tersebut,Erin membuat mereka
perlahan simpati dan menerima kehadirannya sebagai guru mereka. Erin
mengajari mereka cara meluapkan perasaan dengan menuliskan segala
keresaan mereka, membelikan mereka buku yang yang berkaitan dengan
kondisi kehidupan mereka, mempertemukan mereka dengan damainya kehidupan
di sebuah tempat hingga membuat mereka takjub, hingga mepertemukan
mereka dengan seorang saksi yang selamat dari pembantaiholocaust yang
diceritakan dalam sebuah buku (Anne Frank).
Seiring waktu, siswa-siswa tersebut sadar bahwa ideologi dan egoisme
yang mereka pertahankan selama ini adalah kesalahan besar. Mereka
menyadari, bahwa mereka telah terpenjara dendam yang membutakan hati
mereka. Setelah salah seorang siswa bercerita tentang kehidupanya, semua
siswa tersentuhkeharuan, lalu satu persatu menghampiri dan memeluk
siswa yang baru usai bercerita. Momen inilah yang semakin mempererat
ikatan emosional di antara mereka. Hingga dalam sebuah persidangan,
April Lee Hernandes (Eva Benitez) menjadi saksi yang berpihak pada teman
sekelasnya yang berkulit hitam, Armand Jones (Grant Rice) atas tudingan
penembakan di sebuah toko. Eva mengambil keputusan yang bijaksana, ia
menyuarakan kebenaran untuk membebaskan Grant, meskipun ia harus
diasingkan oleh keluarganya yang terlanjur membenci kaum kulit hitam.
Di sisi lain, The Freedom Writers mengangkat persoalan
feminisme. Misalnya dalam bebarapa adegan, perempuan digambarkan dengan
kedudukan yang setara dengan laki-laki, bahkan lebih tinggi
darikedudukan laki-laki. Kebebasan dan esksistensi perempuan dalam sebuah
adegan yang digambarkan secara implisit, bahwa perempuan dapat menjadi
pemimpin di di sektor publik, misalnya dalam sebuah institusi yang
dihadirkan dalam film ini. Selah seorang tokoh perempuan, Lisa Banes
sebagai Karin Polachek dihadirkan menjadi pimpinan di Woordrow Wilson
High School sebagai Dewan Pendidik. Erin juga menunjukkan eksistensinya
sebagai perempuan yang dapat menjadi tauladan bagi guru dan siswa-siswa
di sekolah tersebut. Ia telah mencintai kelas dan sisiwa-siswanya,
walaupun kecintaannya itu membuatnya harus bercerai dengan
suaminya,Patrck Dempsey (Scott Casey). Menurut saya, satu hal yang unik
dari film ini adalah aktivitas perempuan lebih daminan dibanding
aktivitas laki-laki. MisalnyaScott Casey sebagai seorang arsitek hanya
sebatas disebutkan arsitekur, tetapi aktivitasnya tidak diperlihatkan
dalam hingga film berakhir. Ia dominan dihadirkan terus berada dalam
rumah, seolah kehadirannya hanya untuk melengkapi alur cerita, sebagai
pemberi warna dalam hidup Erin.
Sebagai penonton, terasa ada pesan sublim tentang “revolusi mental”
yang hadir di dalam film tersebut, saya rasakan perlahan-lahan mengaliri
tubuh saya.
Selain Scott Casey, Scoot Glenn (Steve Gruwell) tokoh laki-laki yang
dihadirkan sebagai ayah Erin. Peran dan aktivitas Steve juga tidak
dominan dihadirkan dalam film ini. Sebagai seorang ayah, Steve
dihadirakan hanya sebagai tokoh yang memberikan dukungan dan motivasi
kepada Erin agar memanfaat berbagai potensi yang ada pada dirinya, untuk
menemukan dan mencari jati dirinya sebagai perempuan yang hebat.
Tulisan Asli.
https://rahmatadianto.wordpress.com/2020/04/03/revolusi-mental-dan-feminisme-dalam-film-the-freedom-writers/?fbclid=IwAR1iUHmT0hT0XiOh46zv4oCDZpByxEcHJVxWV9FjgRO97ZGhj3XpgZpXqH4
Tulisan Asli.
https://rahmatadianto.wordpress.com/2020/04/03/revolusi-mental-dan-feminisme-dalam-film-the-freedom-writers/?fbclid=IwAR1iUHmT0hT0XiOh46zv4oCDZpByxEcHJVxWV9FjgRO97ZGhj3XpgZpXqH4

Komentar
Posting Komentar