Langsung ke konten utama

Revolusi Mental dan Feminisme dalam Film “The Freedom Writers”



         FWPoster.jpg
                        
https://en.wikipedia.org/wiki/Freedom_Writers

Oleh: Rahmat Adianto

Saya terkesimasaat menghabiskandurasi (2 jam 2 menit 57 detik)dari sebuah film,The Freedom Writers. Banyak inspirasi dan nilai sosial yang disajikan dalam film ini. Isnpirasi dan nilai yang setidaknya dapat diterapkan dalam kehidupan kita sebagai makhluk majemuk dengan keadaan yang plural. Secara Psikologi, kehadiran tokoh utama memberikan banyak perbahan terhadap kejiwaan para siswa dengan mengajarkan arti keberangaman yang harusnya bersatu. Selain itu, film ini dapat ditinjau mengunakan pemikiran feminisme.

“Setidaknya saat kau mati membela diri, kau mati terhormat sebagai seorang pejuang.”

“Jadi jika kau mati, kau akan mendapat hormat? Begitu menurutmu? Apa kau tahu apa yang terjadi saat kau mati? Kau akan membusuk di dalam tanah. Orang-orang akan melanjutkan hidupnya, dan melupakanmu.”

Percakapan di atas, bagian perdebatan antara Jason Finn (Marcus) dan Hilary Swank (Erin Gruwell). Kalimat yang meluap dari lisan Erin Gruwell membuat siswa-siswa hening, berpikir, dan ada yang mengalirkan air mata. Siswa-siswa yang menghadapi berbagai bias sosial, mengantarkan mereka pada sebuah pemikiran singkat, seolah-olah hidup hanya berkisar pada cara hidup dengan bertahan pada ideologi rasisme.

Sekitar tahun 1965,pergolakan antara Bangsa Boer(Belanda) dan Inggris terjadi karena perebutan potensi alam Afrika Selatan. Selang tahun 1899-1902, Inggris memenangkan pergolakan itu,dan berkuasa di Afrika Selatan yang ditandai dengan berdirinyaUnion of South Africa (ketatanegaraan Inggris).

Dari ketatanegaraan inilah, lahir politik apartheid (politik perbedaan kulit putih dan kulit hitam) yang di lahirkan oleh Daniel Francois Malan sebagai Perdana Menteri.Perlakuan rasisme yang dilegalkan dalam politik apartheid ditentang oleh Nelson Mandela melalui Nation African Congress dan menggandeng oposisi lain (kulit kuning) untuk melawan dominasi kulit putih. Nelson Mandela berhasil menunjukkan eksistensi kulit hitam melalui pencapaiannya sebagai presiden pertama kulit hitam di Afrika Selatan.Sentimen rasisme belum sepenuhnya terhapuskan dalam film The Freedom Writers. Masih ada klaim tentang kulit hitam dan kulit putih. Klaim tersebut memberikan kekuatan pada siswa-siswa itu untuk berkomitmen dengan keyakinan bahwa kaum kulit putih dan kulit hitam tidak akan dapat berdamai. Kulit putih terlalu kejam untuk dimaafkan oleh orang-orang kulit hitam. Bagi kaum kulit hitam, mereka yang berkulit putih adalah musuh yang selamanya akan dibenci. Demikianlah komitmen yang pengang teguh oleh kaum kulit hitam.

Tragedi holocaust adalah pembantaian dari bangsa Jerman sebagai “ras unggul”, sementara “ras rendah” dilabelkan pada bangsa Yahudi. Holocaust menjadi sarana bagi siswa-siswa itu untuk menyikapi persoalan rasisme (kulit putih dan kulit hitam). Holocaust menjadi doktrin bagi mereka untuk hidup berdamai.

Erin Gruwellatau yang disapa dengan panggilan Ms. G., hadir untuk berbagai perubahan integritas sekolah sekaligus perubahan ideologi siswa-siswanya.Setelah beberapa pertemuan di kelas bahasa Inggris, Erin masih dengan kebingungannya mencari cara mengubah perilaku hidup siswa-siswa yang telah menjadi bagian dari tenggung jawabnya itu. Dengan kegigihan dan semangat, Erin perlahan menemukan solusi demi solusi untuk mengubah karakter mereka. Erin mencoba untuk melakukan berbagai tahap untuk menarik simpati mereka.Sebagai tahap pertama ia menerapkan pendekatan emosional. Dari pedekatan tersebut,Erin membuat mereka perlahan simpati dan menerima kehadirannya sebagai guru mereka. Erin mengajari mereka cara meluapkan perasaan dengan menuliskan segala keresaan mereka, membelikan mereka buku yang yang berkaitan dengan kondisi kehidupan mereka, mempertemukan mereka dengan damainya kehidupan di sebuah tempat hingga membuat mereka takjub, hingga mepertemukan mereka dengan seorang saksi yang selamat dari pembantaiholocaust yang diceritakan dalam sebuah buku (Anne Frank).

Seiring waktu, siswa-siswa tersebut sadar bahwa ideologi dan egoisme yang mereka pertahankan selama ini adalah kesalahan besar. Mereka menyadari, bahwa mereka telah terpenjara dendam yang membutakan hati mereka. Setelah salah seorang siswa bercerita tentang kehidupanya, semua siswa tersentuhkeharuan, lalu satu persatu menghampiri dan memeluk siswa yang baru usai bercerita. Momen inilah yang semakin mempererat ikatan emosional di antara mereka. Hingga dalam sebuah persidangan, April Lee Hernandes (Eva Benitez) menjadi saksi yang berpihak pada teman sekelasnya yang berkulit hitam, Armand Jones (Grant Rice) atas tudingan penembakan di sebuah toko. Eva mengambil keputusan yang bijaksana, ia menyuarakan kebenaran untuk membebaskan Grant, meskipun ia harus diasingkan oleh keluarganya yang terlanjur membenci kaum kulit hitam.

Di sisi lain, The Freedom Writers mengangkat persoalan feminisme. Misalnya dalam bebarapa adegan, perempuan digambarkan dengan kedudukan yang setara dengan laki-laki, bahkan lebih tinggi darikedudukan laki-laki. Kebebasan dan esksistensi perempuan dalam sebuah adegan yang digambarkan secara implisit, bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin di di sektor publik, misalnya dalam sebuah institusi yang dihadirkan dalam film ini. Selah seorang tokoh perempuan, Lisa Banes sebagai Karin Polachek dihadirkan menjadi pimpinan di Woordrow Wilson High School sebagai Dewan Pendidik. Erin juga menunjukkan eksistensinya sebagai perempuan yang dapat menjadi tauladan bagi guru dan siswa-siswa di sekolah tersebut. Ia telah mencintai kelas dan sisiwa-siswanya, walaupun kecintaannya itu membuatnya harus bercerai dengan suaminya,Patrck Dempsey (Scott Casey). Menurut saya, satu hal yang unik dari film ini adalah aktivitas perempuan lebih daminan dibanding aktivitas laki-laki. MisalnyaScott Casey sebagai seorang arsitek hanya sebatas disebutkan arsitekur, tetapi aktivitasnya tidak diperlihatkan dalam hingga film berakhir. Ia dominan dihadirkan terus berada dalam rumah, seolah kehadirannya hanya untuk melengkapi alur cerita, sebagai pemberi warna dalam hidup Erin.

Sebagai penonton, terasa ada pesan sublim tentang “revolusi mental” yang hadir di dalam film tersebut, saya rasakan perlahan-lahan mengaliri tubuh saya.

Selain Scott Casey, Scoot Glenn (Steve Gruwell) tokoh laki-laki yang dihadirkan sebagai ayah Erin. Peran dan aktivitas Steve juga tidak dominan dihadirkan dalam film ini. Sebagai seorang ayah, Steve dihadirakan hanya sebagai tokoh yang memberikan dukungan dan motivasi kepada Erin agar memanfaat berbagai potensi yang ada pada dirinya, untuk menemukan dan mencari jati dirinya sebagai perempuan yang hebat.

Tulisan Asli.

https://rahmatadianto.wordpress.com/2020/04/03/revolusi-mental-dan-feminisme-dalam-film-the-freedom-writers/?fbclid=IwAR1iUHmT0hT0XiOh46zv4oCDZpByxEcHJVxWV9FjgRO97ZGhj3XpgZpXqH4

Komentar

Postingan populer dari blog ini

05 April 2020

Ada apa?

25 Maret 2020

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1286586841730127&set=a.112884472433709&type=3&eid=ARBScCIZzG3r5t_LA82xzdvZlH_3UuNLzcKpMk18wBZbQAePHEQNhFzLbYFKTuBUIriJH-bYpjYvGt_1 Kata Bang Kahar Mappasomba Daeng Tulolo saya harus membaca apa pun. Baru saja, saya lihat burung gereja rumah tetangga depan kamar saya. Tiba-tiba saya berpikir, tentang alasan (burung dalam gambar) diakrabi dengan nama burung gereja dan seharusnya "Passer montanus" nama latinnya. Ternyata burung ini berasal dari Asia. Di Indonesia burung ini, sering ditemukan dan membuat sarang di gereja. Karena burung ini selalu mencari tempat yang aman, maka gereja dengan arsitektur yang kadang tinggi dan luas, cukup dianggapnya sebagai tempat yang aman.