Dari Si Kecil Fani. Kami akan mengumpulkan episode demi episode untuk dirangkaikan jadi cerita yang utuh.
Tentang Fani
Si Kecil Fani, demikian nama yang saya hadiahkan padanya. Fani Astika, nama lengkapnya. Saya menyebutnya Si Kecil karena ukuran tubuhnya yang minimalis. Mahasiswa PG-PAUD Muhammadiyah Kendari ini selalu gesit dalam hal apa pun. Dia gemar bekelana tanpa takut, dia gemar memanjat puncak-puncak, dia juga gemar ikut keramaian arus demonstran. Mungkin saja, dia salah satu pelopor Feminis abad ke-19 yang bereinkarnasi di abad ke-21 ini. Saya selalu suka dengan kegilaannya. Bahkan saya pernah dan akan sering mengatakan bahwa "saya jatuh cinta kesekian kalinya padamu". Cinta yang akan dimaknai dengan berbagai sudut pandang. mungkin seperti puisi yang saya buatkan untuk taman yang saat itu meminta tema persahabatan atau puisi yang saya buat untuk cinta yang lebih dari teman. saya akan cantumkan kedua puisi itu menjadi penutup narasi ini. Semoga kita akan selalu bercerita dalam caption/narasi episode ini.
Perjalanan Kita
Izinkan saya mencintaimu, mencintaimu dengan segala kegaiban, bahkan mungkin akan raib. Raib terhempas kegelisahan dan gamang enggan terdefiniskan.
Izinkan saya mencintaimu, kamu, siapa?
Sebut saja Tuhan yang gaib, dan kau pula gaib, sebab saya tak punya cermin ajaib yang akan menjawab siapa kau yang saya maksud. Mungkin kau yang diam-diam mencintaiku, kalau pun ada. Atau kau yang diam-diam saya cintai.
Cinta yang mempertemukan saya denganmu di bawah ranumnya kata-kata, cinta yang menghanyutkan kita di sungai kata-kata, cinta yang akan mengantarkan kita pada satu keadaan damai, kedamaian yang orang-orang cita-citakan, kedamaian bintang, kedamaian-kedamaian malam, kedamaian sunyi, dan kedamain hati kita.
Dalam kedamaian itu kita akan berbicara tentang pelajaran, pelajaran yang tak akan kita temui dalam bangku-bangku kosong di sekolah atau di nama pun. Pelajaran yang akan mengajarkan kita saling memahami, saling mengerti, saling mengisi, dan saling menyakiti. Sebab tanpa saling menyakiti kita akan kaku bercerita pada anak-anak kita kelak, mereka juga akan kaku, tanpa saling menyakiti. Dan akhirnya, kita perlahan saling membalut luka dari saling menyakiti tadi, luka-luka itu yang akan membuat kita bercarita tentang berbagai rasa yang kita pungut sepanjang perjalanan. Dan kita akan bernostalgia, tertawa, dan akhirnya kita akan bahagia. Kebahagiaan yang kekal yang terlahir dari ruh badai, dari dan hantu-hantu jalanan.
Maka pada suatu malam, keluarlah, pilih satu di antara sekian bintang yang kelak kau akan tunjukkan padaku, sebagai bukti perasaanmu. Setelah itu, akan kupajang fotomu di dinding-dinding kamarku, Facebookku, Instagramku, Twitterku agar dunia tahu, kau telah kuabadikan bahkan dalam darahku.
Mari katakan sejujurnya bahwa kita saling mencintai, sebagai fondasi masa depan. Masa kelak kita akan abadi menjadi sepasang kisah, seperti malam dan sunyi yang saling mencintai.
Rahmat Adianto
Kendari, 4 April 2020
Episode 1
Episode 2
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 14
Episode 16
Episode 17

















Komentar
Posting Komentar