Saat ini, kau akan fasih bercerita tentang kisah perasaan asmaramu. Lalu apa yang kau akan ceritakan padaku? Sementara saya yang masih disetiai kesunyian. Sebab sampai saat ini saya tak lagi bisa mendapatkan seorang yang bisa mengisi ruang-ruang kesunyian itu. Ruang-ruang yang hampa, tanpa belaian, tanpa kasih sayang, tanpa perhatian sepenuhnya. Saya rindu masa-masa lalu, kisah yang telah usai, meskipun hanya kisah yang usang, tapi itu adalah kisah-kisah yang mengisi hidupku. Kisah-kisah yang memberikan saya banyak hal untuk sedikit berani bercerita tentang perasaan perempuan, tentang kesakitan perempuan. Bagi lelaki setia, janji adalah ketulusan dan kesungguhan hati saat ia jatuh cinta pada seorang perempuan. Lalu berproses, berkomitmen untuk saling menyayangi, saling berbagi, dan banyak hal tentang masa depan. Dan ternyata karena takdir terkadang tak sesuai dengan harapan, maka terjadilah persiteruan, bahkan berpisah. Bukan karena pengingkaran janji semata, tetapi karena takdir. Sekuat apapun manusia berkomitmen, dan berusaha, Tuhan selalu ada, yang menentukan. Maka kasihanilah lelaki setia yang mau bernegosiasi, bukan malah mengeraskan kepala agar mendapat kemenangan. Sesabar-sabarnya seseorang akan ada batasnya. Batas-batas itulah yang akan menjadi gerbang perpisahan, perpisahan yang kalian pun tidak sangka waktu dan Susananya, bahkan penyebabnya. Lalu karena perpisahan itu, para perempuan mengatakan semua laki-laki itu bulsyit.
Bulsyit, kata yang seharusnya dilemparkan pada laki-laki yang melampiaskan kepuasannya. Memanfaatkan perempuan melampiaskan hasratnya, dan memiliki banyak kekasih. Lalu setelah puas mereka akan pergi tanpa pamit, tanpa maaf, tanpa berterima kasih, mungkin iyula penyebab perempuan melampiaskan kata bulsyit ke semua laki-laki.
Jangan katakan semua laki-laki bulsyit, sebab jika, laki-laki bulsyit, maka soerang ayah adalah laki-laki dan masihkan ingin berkata bulsyit. Dan saat bertanya pada sang ayah, ternyata sang ayah banyak menyakiti perempuan pada masa lalunya, bagaimana? Kalian masih ingin menyalahkan laki-laki. Pada intinya kita tidak untuk saling menyalakan. Maka saling mengingatkan, itu cukup.
Lalu saya takut melabuhkan perasaan pada perempuan, karena saya takut menyakiti. Hari ini saya berjanji setia, saya akan setia karena, selama saya menjalani hidup asmara, saya tidak pernah mendua. Jika pun ada yang baru, berarti hubungan yang lama, telah berakhir. Tapi kalau saya janjikan kenyamanan saya akan menjadi ragu, bahkan saya akan takut. Sekuat apapun komitmen, masih akan ada persiteruan, apalagi sebatas komitmen yang dilandasi ketulusan.
Saat ini saya tidak berambisi untuk memiliki seseorang, hanya sebatas diizinkan mencintainya, itu lebih dari cukup. Jikapun saling menjaga perasaan itu sudah kewajiban bagi saya. Saya hanya ingin kehadiran seorang yang akan mengisi kekosongan dan kesunyian itu. Jikapun mejalani hubungan tanpa pertemuan itu juga baik juga, saya akan menurut. Sekuat apapun pendirianmu, saya tunduk pada perempuan. Bagiku, menyakiti perempuan, sama halnya menyakiti mama saya. Pada intinya dalam hubungan hanya sebatas kemesraan tanpa penikmatan. Jangan ada yang saling dirugikan.
Dan jikapun dalam hubungan, saya diminta bercerita tentang harta, saya tidak punya sedikitpun, saya sudah lama hidup terkatung-katung, kuliah pun hasil kenekadanku, bukan biaya dari orang tua. Meskipun saya dapat Beasiswa Bidikmisi, itu cukup untuk kuliah dan membeli perlengkapan kuliah, sekali satu semester (6 bulan). Tapi jika meminta apapun saya pun akan berusaha, bukankah doa dan usaha cukup untuk menghantarkan pada yang kita harapkan? Walaupun dengan jalan yang curam dan berliku, bahkan licin. Satu yang saya pegang teguh, bahwa "segala masalah,. Ada segala solusi"
Dan jikapun dalam hubungan, saya diminta bercerita tentang harta, saya tidak punya sedikitpun, saya sudah lama hidup terkatung-katung, kuliah pun hasil kenekadanku, bukan biaya dari orang tua. Meskipun saya dapat Beasiswa Bidikmisi, itu cukup untuk kuliah dan membeli perlengkapan kuliah, sekali satu semester (6 bulan). Tapi jika meminta apapun saya pun akan berusaha, bukankah doa dan usaha cukup untuk menghantarkan pada yang kita harapkan? Walaupun dengan jalan yang curam dan berliku, bahkan licin. Satu yang saya pegang teguh, bahwa "segala masalah,. Ada segala solusi"
Komentar
Posting Komentar