Langsung ke konten utama

Tuhan yang Malu

Tuhan yang Malu
Malam terlahir di rahim waktu
Kelam pekat memandang tapal batas kuasa
Di pertigaan malam, manusia bersatu menggoda iblis-iblis
Agar masyuk mengumbar kemaluan
Dan sangsi di perempatan malam
Menuju alamat yang tak pernah disebutkan
Oleh gagak-gagak, se-huruf pun
Lalu mereka berbondong-bondong memohon pengampunan
Dari Tuhan yang tengah malu memaafkan.
Sebab Tuhan mencintai ciptaan-ciptaan
Tapi mereka telah hidup dalam kesia-siaan
Sungai yang menganank di pelosok mata ibu
Mereka seruput tanpa dahaga
Birahi meng-klimaks dalam persetubuhan
Manusia dengan iblis yang mencintai tahta
Merindukan anak-anak pemberontak
Yang akan membantai orang-orang tua
Padahal betapa girangnya orang-orang tua
Mengajarkan kesetiaan pada anak-cucu
Yang menendang-nendang dalam rahim purba
Mereka lahir dan tubuh dalam kasih sayang dan perhatian
Lalu bertemu sebagai sepasang yang disahkan dalam ikrar
Atas nama Tuhan yang tak pernah mereka tahu
Tuhan yang meminta mereka hanya sekadar beribada
Tuhan yang membutuhkan selaksa doa-doa dari penyesalan
Tapi mereka abai dan tertawa dalam kesesatan
Kesesatan yang klise
Tuhan pun sangsi dan malu memaafkan.
Kendari, 3 April 2020
Malam yang terlahir di rahim waktu
Kelam pekat memandang tapal batas kuasa
Di pertigaan malam, manusia bersatu menggoda iblis-iblis
Agar masyuk mengumbar kemaluan
Dan sangsi di perempatan malam
Menuju alamat yang tak pernah disebutkan
Oleh gagak-gagak, se-huruf pun
Lalu mereka berbondong-bondong memohon pengampunan
Dari Tuhan yang tengah malu memaafkan.

Sebab Tuhan mencintai ciptaan-ciptaan
Tapi mereka telah hidup dalam kesia-siaan
Sungai yang menganank di pelosok mata ibu
Mereka seruput tanpa dahaga
Birahi meng-klimaks dalam persetubuhan
Manusia dengan iblis yang mencintai tahta
Merindukan anak-anak pemberontak
Yang akan membantai orang-orang tua

Padahal betapa girangnya orang-orang tua
Mengajarkan kesetiaan pada anak-cucu
Yang menendang-nendang dalam rahim purba
Mereka lahir dan tubuh dalam kasih sayang dan perhatian
Lalu bertemu sebagai sepasang yang disahkan dalam ikrar
Atas nama Tuhan yang tak pernah mereka tahu
Tuhan yang meminta mereka hanya sekadar beribada
Tuhan yang membutuhkan selaksa doa-doa dari penyesalan
Tapi mereka abai dan tertawa dalam kesesatan

Kesesatan yang klise
Tuhan pun sangsi dan malu memaafkan.

Rahmat Adianto
Kendari, 3 April 2020

Postingan Asli.

http://www.jendelasastra.com/karya/puisi/tuhan-yang-malu?fbclid=IwAR3fdNYSZRjdf0HvEgjEHN2yuW1QWMaEScyAUispZGdz_Jfo2lP8ljNtBgY

Komentar

Postingan populer dari blog ini

05 April 2020

Ada apa?

25 Maret 2020

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1286586841730127&set=a.112884472433709&type=3&eid=ARBScCIZzG3r5t_LA82xzdvZlH_3UuNLzcKpMk18wBZbQAePHEQNhFzLbYFKTuBUIriJH-bYpjYvGt_1 Kata Bang Kahar Mappasomba Daeng Tulolo saya harus membaca apa pun. Baru saja, saya lihat burung gereja rumah tetangga depan kamar saya. Tiba-tiba saya berpikir, tentang alasan (burung dalam gambar) diakrabi dengan nama burung gereja dan seharusnya "Passer montanus" nama latinnya. Ternyata burung ini berasal dari Asia. Di Indonesia burung ini, sering ditemukan dan membuat sarang di gereja. Karena burung ini selalu mencari tempat yang aman, maka gereja dengan arsitektur yang kadang tinggi dan luas, cukup dianggapnya sebagai tempat yang aman.