Langsung ke konten utama
TENTANG POHON ASAM
DI BELAKANG RUMAH

: kepada Rahmat Adianto

Mungkin sampai mati saya akan terus bercerita tentang sepi
Tentang pohon yang lupa pokok
Tentang rumah yang lupa alamat
Atau tentang kita yang tiada berpaut

Ingin sekali kuceritakan padamu perihal pohon asam di belakang rumah
Agar bisa kau resapi desir angin dan bunyi daun-daun mungil bergesekan
Juga ranting pada atap
yang menerbitkan ngilu
Yang membuatku tambah bisu

Tapi ayah, bila engkau datang kembali
Melihat rumah kecil dan reyot ini
Dinding yang sudah lapuk ini
Guguran daun-daun asam ini
Adalah gugusan kesunyian demi kesunyian

Irianto Ibrahim
Kendari, 10 April 2020

Penulis.

https://web.facebook.com/anto.lamalonda.9?__tn__=%2CdlC-R-R&eid=ARA-4gyqyeeoTvm02A3NIqE4-sBjl4FB4e8QuUB_QUaBURONECT_rcrX3XYZd8PO_Fv0p_7Qj_O4JZF2&hc_ref=ARS2AbBr1P7mlqHfAiQzy2PcIezwem-LzSHPWEaTijjK1c8a6lEIfSGpkf4yrjzeBV8&ref=nf_target

Komentar

Postingan populer dari blog ini

05 April 2020

Ada apa?

25 Maret 2020

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1286586841730127&set=a.112884472433709&type=3&eid=ARBScCIZzG3r5t_LA82xzdvZlH_3UuNLzcKpMk18wBZbQAePHEQNhFzLbYFKTuBUIriJH-bYpjYvGt_1 Kata Bang Kahar Mappasomba Daeng Tulolo saya harus membaca apa pun. Baru saja, saya lihat burung gereja rumah tetangga depan kamar saya. Tiba-tiba saya berpikir, tentang alasan (burung dalam gambar) diakrabi dengan nama burung gereja dan seharusnya "Passer montanus" nama latinnya. Ternyata burung ini berasal dari Asia. Di Indonesia burung ini, sering ditemukan dan membuat sarang di gereja. Karena burung ini selalu mencari tempat yang aman, maka gereja dengan arsitektur yang kadang tinggi dan luas, cukup dianggapnya sebagai tempat yang aman.